BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam
perspektif teoritik, pendidikan seringkali diartikan dan dimaknai orang secara
beragam, bergantung pada sudut pandang masing-masing dan teori yang
dipegangnya. Terjadinya perbedaan penafsiran pendidikan dalam konteks akademik
merupakan sesuatu yang lumrah, bahkan dapat semakin memperkaya khazanah
berfikir manusia dan bermanfaat untuk pengembangan teori itu sendiri. Tetapi
untuk kepentingan kebijakan nasional, seyogyanya pendidikan dapat dirumuskan
secara jelas dan mudah dipahami oleh semua pihak yang terkait dengan
pendidikan, sehingga setiap orang dapat mengimplementasikan secara tepat dan
benar dalam setiap praktik pendidikan.
Bagaimana
negara Finlandia dapat menjadi negara dengan tingkat kualitas pendidikan terbaik
di dunia? Oleh karena itu, pemakalah bermaksud membahas mengenai pendidikan di
finlandia untuk mengetahui bagaimana Negara Finlandia menyiapkan pendidikan
bagi penduduknya dan mengetahui bagaimanastruktur pendidikan Finlandia,
mengetahui bagaimana kurikulum dan guru di Finlandia. Selain itu, untuk
mengetahui bagaimana Negara Finlandia mampu mengiringi kemajuan dan
perkembangan IPTEK saat era globalisasi ini dalam dunia ICT. Dan diharapkan
dari penulisan makalah ini dapat menjadi inspriasi bagi para pembaca untuk
meningkatkan kualitas pendidikan pendidikan di negara Indonesia yang tercinta
ini.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
Pendidikan di Negara Finlandia?
2. Apa
Tujuan Pendidikan di Finlandia?
3. Bagaimana
Sistem Pendidikan di Negara Finlandia?
4. Bagaimana
Kurikulum Pendidikan di Negara Finlandia?
5. Apa
saja syarat menjadi pendidik di Negara Finlandia?
C. Tujuan
1. Menjelaskan
pendidikan di negara Finlandia.
2. Menjelaskan
tujuan pendidikan di Negara Finlandia.
3. Menjelaskan
tentang Sistem Pendidikan di negara Finlandia.
4. Menjelaskan
kurikulum pendidikan di negara Filandia.
5. Menjelaskan
syarat-syarat pendidik di Negara Finlandia.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Sejarah Pendidikan di Negara
Finlandia
Finlandia
atau Republik Finlandia adalah sebuah negara Nordik yang terletak di Fennoscandian
wilayah utara Eropa. Di sebelah barat berbatasan dengan Swedia, di sebelah
timur berbatasan dengan Rusia, dan di sebelah utara berbatasan dengan Norwegia,
sementara Estonianya terletak di bagian selatan Teluk Finlandia. Ibu kota
Finlandia adalah Helsinki.
Finlandia
terkenal dengan pendidikan terbaik di dunia. Ini terbukti dari peringkat PISA (
Program for International Student Assesment ) pada tahun 2003 siswa Finlandia
menduduki peringkat pertama dan meraih skor tertinggi di dunia secara
konsisten. Tes yang diadakan oleh PISA menguji siswa yang berusia 15 tahunan di
sekiatr 40 negara industri seluruh dunia, pengukuran tes dalam PISA yaitu
keaksaraan dalam membaca, matematika, dan ilmu pengetahuan.
Jika
dibandingkan dengan Indonesia yang berada pada peringkat paling bawah
(Prayudi,2008). Ini artinya negara finlandia merupakan Negara dengan kualitas
pendidikan terbaik di dunia dengan sistem pendidikan yang baik pula. Sistem
pendidikan di Finlandia adalah sebuah system egalitarian Nordik, dengan tidak ada
uang untuk waktu-penuh siswa. Secara hukum semua siswa wajib belajar sembilan
tahun dimulai pada usia tujuh tahun dan mereka mendapatkan makan secara gratis.
Peraturan tersebut diberlakukan pada tingkat dasar dan menengah. Di bidang
pendidikan pendidikan, Forum Ekonomi Dunia meletakkan kualitas Finlandia pada
peringkat pertama di dan peringkat kedua dalam matematika dan ilmu pendidikan.
B. Tujuan Pendidikan di Negara
Finlandia
Tujuan
utama system pendidikan Finlandia adalah mewujudkan high-level education for
all. Tujuan tersebut mengupayakan agar seluruh rakyat Finlandia dapat mengenyam
pendidikan hingga tingkatan tertinggi, secara merata, dengan kemampuan,
keahlian dan kompetensi yang terbaik. Finlandia membangun system pendidikan
dengan karakteristik yang dilaksanakan secara konsisten, yakni, free education,
free school meals, dan special needs education dengan berpegang teguh pada
prinsip inklusivitas.
Pendidikan
dasar Finlandia dikembangkan sedemikian rupa agar mampu menjamin kesetaraan
kesempatan bagi seluruh rakyat untuk menikmati pendidikan terlepas dari faktor
gender, strata sosial, latar belakang etnis dan golongan. Fokus utama sistem
pendidikan adalah kemerataan pendidikan guna menunjang tingkat kompetensi
rakyat dalam menyokong pembangunan nasional berdasarkan inovasi.
Segenap
rakyat Finlandia memiliki hak dasar untuk mengenyam pendidikan secara gratis.
Pemerintah wajib menyediakan kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara
untuk menikmati layanan pendidikan gratis, di setiap jenjang pendidikan, sesuai
dengan kemampuan dan kebutuhannya,
terlepas dari latar belakang perekonomian mereka, guna pengembangan diri,
keahlian, kompetensi dan kapasitas seluruh warganegaranya. Hak tersebut dijamin
dan tertuang dalam Konstitusi Finlandia.
C. Sistem Pendidikan di Negara
Finlandia
Salah
satu faktor yang mendorong keberhasilan Finlandia bertransformasi menjadi
negara industri maju dan modern adalah tingginya kualitas dan kompetensi sumber
daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Tingginya kualitas dan kompetensi SDM
Finlandia merupakan hasil dari perjalanan panjang komitmen kuat pemerintah dan
rakyat Finlandia dalam membangun dan mengembangkan system pendidikan
nasionalnya.
Pemerintah
dan rakyat Finlandia menyadari bahwa komitmen kuat untuk membangun dan
mengembangkan system pendidikan nasional merupakan kunci penentu keberhasilan
negaranya untuk tetap eksis mempertahankan keberlangsungan hidupnya sebagai
negara yang berpenduduk kecil, sumber daya alam yang sangat terbatas dan hidup
di tengah kondisi alam yang ekstrim dan kurang bersahabat. Pembangunan negara
dan bangsa Finlandia berdiri di atas pilar pendidikan dan penelitian yang
berbasis inovasi dan disokong penuh oleh seluruh komponen bangsa.
Sistem
pendidikan di Finlandia memiliki 3 tingkatan, yakni:
1. Pendidikan
wajib dasar nasional 9 tahun (terdiri dari 6 tahun pendidikan dasar
dan 3 tahun pendidikan menengah pertama);
2. Pendidikan menengah atas dan/atau sekolah
kejuruan (vocational training);
3. Pendidikan tinggi (higher education).
Pendidikan
pra-sekolah tersedia bagi anak-anak yang belum memasuki usia wajib sekolah (di
bawah usia 7 tahun). Pendidikan dasar adalah tingkat pendidikan umum dasar yang
diberikan secara komprehensif dalam periode 9 tahun. Pendidikan menengah atas
terdiri dari pendidikan dan pelatihan kejuruan dan pendidikan dasar. Pendidikan
tinggi diberikan di berbagai universitas dan politeknik. Pendidikan dan
pelatihan kaum muda tersedia di setiap tingkatan jenjang pendidikan. Selain
dari pada itu, pendidikan kaum dewasa menawarkan berbagai macam pendidikan dan
pelajaran rekreasional yang diharapkan mampu membangun kompetensi dan keahlian
penduduk.
Pendidikan
Pra Sekolah
Di
Finlandia, anak dikenakan wajib belajar ketika ia memasuki usia yang ketujuh.
Namun demikian, bagi anak yang belum mencapai usia 7 tahun, mereka dapat
menikmati pendidikan pra-sekolah yang disediakan oleh Pemerintah Daerah di
bawah pengawasan administratif Kementerian Sosial. Anak yang berusia di bawah 7
tahun yang mengikuti jenjang pendidikan pra-sekolah di sekolah umum/ pemerintah
tidak dipungut biaya pendidikan. Selain dari pada itu, siswa pra-sekolah juga
disediakan makanan (school meals), pelayanan kesehatan, dan transportasi
(apabila rumah mereka berada lebih dari 5 Km) secara gratis.
Namun
demikian, bagi anak berusia di bawah 7 tahun yang mengikuti jenjang pendidikan
pra-sekolah di pusat penitipan anak akan dikenai biaya yang disesuaikan dengan
pendapatan orang tuanya. Di jenjang pendidikan pra-sekolah terdapat konsep
”educational partnership” yang menekankan pentingnya peran orang tua dalam
mendukung proses pembelajaran anak yang diberikan oleh gurunya di sekolah atau
di pusat penitipan anak. Orang tua murid juga turut aktif dilibatkan dalam
penyusunan kurikulum daerah yang tetap berpegang teguh dengan kurikulum inti
nasional.
Pendidikan
Dasar
Sistem
pendidikan Finlandia tidak lagi mengenal sistem pendidikan menengah pertama, atau
setara dengan pendidikan di tingkat Sekolah Menegah Pertama (SMP) di Indonesia.
Orang tua atau wali murid dalam usia wajib belajar wajib menyekolahkan anaknya
untuk mengikuti program wajib belajar. Pemerintah daerah memiliki kewajiban
untuk menyelenggarakan pendidikan dasar tanpa dipungut biaya untuk seluruh anak
yang tinggal di kekuasaan wilayah administratifnya. Setelah anak menyelesaikan
seluruh silabus pendidikan dasar, maka anak tersebut akan menerima sebuah
sertifikat yang menyatakan bahwa anak tersebut telah menyelesaikan pendidikan
wajib dasar 9 tahun dan berhak untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menegah
atas (general upper secondary school) atau pendidikan kejuruan (vocational
education and training).
Dalam
jenjang pendidikan dasar 9 tahun, tidak terdapat ujian nasional untuk kenaikan
tingkat kelas, maupun ujian nasional untuk kelulusan pendidikan wajib dasar 9
tahun. Anak hanya akan memperoleh penilaian yang diberikan oleh guru di tiap
akhir tahun ajaran dan di akhir jenjang pendidikan dasar.
Pendidikan
Menengah
Sekolah
Menengah atas dan Kejuruan Setelah seorang murid telah menerima seluruh
kurikulum jenjang pendidikan wajib dasar 9 tahun, maka murid tersebut dapat
melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan lanjutan (upper secondary education
level). Terdapat dua macam jenjang pendidikan lanjutan, yakni jenjang
Pendidikan Menengah Atas dan jenjang Pendidikan Sekolah Kejuruan (vocational
education and training). Jenjang pendidikan sekolah kejuruan dibagi ke dalam
dua tingkat, yakni pendidikan kejuruan (initial vocational education and
training) dan pendidikan kejuruan lanjutan (further vocational education and
training). Murid dapat memilih jalur pendidikan mana yang akan mereka jalani.
Kurikulum jenjang pendidikan menengah atas dan jenjang pendidikan sekolah
kejuruan ditempuh selama 3 tahun. Namun demikian, setelah seorang murid
menamatkan salah satu dari kedua jalur pendidikan tersebut, maka ia berhak
untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang perguruan tinggi di Universitas atau
Politeknik.
Pendidikan
Tinggi
Sistem
pendidikan tinggi (dikti) Finlandia
terdiri dari 2 sektor, yakni
politeknik, dan universitas. Misi
politeknik adalah untuk mencetak dan melatih para ahli untuk mendukung dunia kerja dan melaksanakan riset dan pembangunan yang mampu menyokong pendidikan serta pembangunan daerah. Universitas melaksanakan riset ilmiah dan menyediakan instruksi dan pendidikan
paska sarjana. Tujuan inti kebijakan
dikti Finlandia adalah untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat dan mencetak
para ahli terdidik guna memenuhi
kebutuhan dunia kerja, khususnya di bidang bisnis dan industri.
Bahkan
finlandia tercatat sebagai Negara dengan waktu belajar terseingkat di dunia
dibanding negara maju lainnya yaitu 4-5 jam per hari. selain itu , guru yang mendampingi
dalam 1 kelas ada 3 orang . 2 guru pengampuh mata pelajaran dan 1 orang guru
lagi untuk mendampingi anak secara individual apabila mengalami kendala saat
proses belajar berlangsung.
D. Kurikulum Pendidikan di Finlandia
Kurikulum
pendidikan Finlandia tidak sepadat kurikulum yang diberlakukan di negara-negara
lainnya, khususnya negara Asia. Anak-anak di Finlandia menghabiskan waktu lebih
sedikit di sekolah dibandingkan anak-anak di negara lain. Jam istirahat sekolah
juga lebih panjang, yakni 75 menit, dibandingkan dengan negara seperti Amerika
yang membatasi waktu 30 menit istirahat. Mereka juga diberikan tugas yang lebih
sedikit. Selain itu, anak-anak Finlandia memulai pendidikan akademik di usia 7
tahun, berbeda dengan kebanyakan negara yang memulai pendidikan akademik
anak-anak di usia yang lebih muda. Bagaimana Finlandia mampu menuai sukses di
dunia pendidikan dengan kurikulumnya yang terkesan “malas” ?
Prinsip
kurikulum pendidikan Finlandia adalah” Less is More “. Sekolah berfungsi
sebagai tempat belajar dan eksplorasi potensi dimana sekolah menjadi lingkungan
yang relaks dan tidak terlalu mengikat siswanya dengan jam belajar dan
kapasitas tugas yang tidak terlalu membebani siswa. Di samping itu, tidak ada
sistem peringkat untuk prestasi akademik dan ujian standarisasi dari tingkat
sekolah dasar sampai dengan menengah pertama. Para siswa juga baru diuji dengan
ujian standarisasi pada sekolah menengah tingkat akhir. Ujian ini pun bersifat
optional, hanya bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.
Bagi yang tidak mengikuti ujian, tetap bias melanjutkan ke institusi pendidikan
yang berorientasi ke praktek dunia kerja.
Sistem
pendidikan Finlandia sangat menitikberatkan bimbingan bagi siswa yang mengalami
kesulitan belajar. Finlandia optimis bahwa hasil terbaik hanya dapat dicapai
bila kita lebih memperhatikan siswa yang kurang daripada terlalu menekankan
target kepada siswa yang unggul. Dengan begitu, tidak ada anak-anak yang merasa
tertinggal. Finlandia terbukti mampu mencetak anak-anak berprestasi di bidang
akademik tanpa harus mengikuti standarisasi akademik konvensional yang kaku.
E. Pendidik di Negara Finlandia
Pemerintah
Finlandia juga menetapkan standar tinggi untuk profesi guru. Dimana semua
tenaga pengajar di Finlandia setidaknya diwajibkan mempunyai latar belakang
pendidikan Master.
Proses
seleksi tenaga pengajar pun sangat ketat, hanya 10% dari lulusan perguruan
tinggi yang bisa diterima menjadi guru. Mereka yang lolos seleksi ini pun masih
harus melalui proses training yang kompleks terlebih dahulu sebelum dinyatakan
siap berkecimpung dalam profesi guru. Finlandia percaya bahwa guru adalah modal
utama untuk menghasilkan siswa yang unggul.
Dengan
kualitas mahasiswa yang baik dan pendidikan pelatihan guru yang berkualitas,
tak salah jika mereka menjadi guru-guru dengan kualitas luarbiasa. Dengan
kualifikasi dan untuk menggunakan metode kelas apapun yang mereka suka, dengan
kurikulum yang mereka rancang sendiri, dan buku teks yang mereka pilih sendiri.
Jika negara-negara lain percaya bahwa ujian dan evaluasi bagi siswa merupakan
bagian yang sangat penting bagi kualitas pendidikan, mereka justru percaya
bahwa ujian dan test itulah yang menghancurkan tujuan belajar siswa.
Terlalu
banyak test membuat guru cenderung mengajar siswa hanya untuk lolos ujian,
ungkap seorang guru di Finlandia. Padahal banyak aspek dalam pendidikan yang
tidak bias diukur dengan ujian. Pada usia 18 th siswa mengambil ujian untuk
mengetahui kualifikasi mereka di perguruan tinggi dan dua pertiga lulusan
melanjutkan ke perguruan tinggi.
Siswa
diajar untuk mengevaluasi dirinya sendiri, bahkan sejak Pra-TK! Ini membantu
siswa belajar bertanggungjawab atas pekerjaan mereka sendiri, kata Sundstrom,
kepala sekolah di SD Poikkilaakso, Finlandia. Kalau siswa bertanggungjawab,
mereka guru bekeja lebih bebas karena tidak harus selalu mengontrol mereka.
Siswa didorong untuk bekerja secara independen dengan berusaha mencari sendiri
informasi yang mereka butuhkan.
Siswa
belajar lebih banyak jika mereka mencari sendiri informasi yang mereka
butuhkan. Kita tidak belajar apa-apa kalau kita hanya menuliskan apa yang
dikatakan oleh guru. Di Finlandia guru tidak mengajar dengan metode ceramah.
Suasana sekolah sangat santai dan fleksibel. Terlalu banyak komando hanya akan
menghasilkan rasa tertekan dan belajar menjadi tidak menyenangkan. Siswa yang
lambat mendapat dukungan secara intensif baik oleh guru maupun siswa lain. Hal
ini juga yang membuat Finlandia sukses.
Berdasarkan
penemuan PISA, sekolah- sekolah di Finlandia sangat kecil perbedaannya antara
siswa yang berprestasi baik dan yang buruk. Remedial tidaklah dianggap sebagai
tanda kegagalan tapi sebagai kesempatan untuk memperbaiki. Seorang guru yang
bertugas menangani masalah belajar danprilaku siswa membuat program individual
bagi setiap siswa dengan penekanan tujuan-tujuan yang harus dicapai, umpamanya:
Pertama, masuk kelas; kemudian datang tepat waktu; berikutnya, bawa buku, dlsb.
Kalau mendapat PR siswa bahkan tidak perlu untuk menjawab dengan benar, yang
penting mereka berusaha.
Para
guru sangat menghindari kritik terhadap pekerjaan siswa mereka. Menurut mereka,
jika kita mengatakan “Kamu salah” pada siswa, maka hal tersebut akan membuat
siswa malu. Dan jika mereka malu maka ini akan menghambat mereka dalam belajar.
Setiap siswa diperbolehkan melakukan kesalahan. Mereka hanya diminta
membandingkan hasil mereka dengan nilai sebelumnya, dan tidak dengan siswa
lainnya. Jadi tidak ada system ranking-rankingan. Setiap siswa diharapkan agar
bangga terhadap dirinya masing-masing. Ranking- rankingan hanya membuat guru
memfokuskan diri pada segelintir siswa tertentu yang dianggap terbaik di
kelasnya.
Kehebatan
dan keberhasilan system pendidikan di Finlandia adalah gabungan antara
kompetensi guru yang tinggi, kesabaran, toleransi dan komitmen pada
keberhasilan melalui tanggung jawab pribadi. Kalau saya gagal dalam mengajar
seorang siswa, kata seorang guru, maka itu berarti ada yang tidak beres dengan
pengajaran saya! Itu benar-benar ucapan guru yang sangat bertanggungjawab.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan :
Finlandia
berhasil menjadikan dirinya sebagai negara dengan sistem pendidikan terbaik
nomor satu di dunia. Hal ini tentu tidak terlepas dari kerja keras dan
keseriusan pemerintah untuk melakukan komitmen demi mensukseskan pendidikan
nasional. Ada beberapa cara/prosedur dalam sistem pendidikan di Finlandia yang
berbeda dengan sistem pendidikan negara lainnya di dunia. Finlandia tidak
menerapkan sistem stratifikasi sekolah, tidak ada istilah sekolah favorit atau
pun sekolah rakyat. Semua sekolah di negara ini adalah sama, namun yang menjadi
pembeda adalah opsi pelajaran bahasa dan olah raga.
Sehingga
setiap orang di sana menentukan pilihan sekolahnya bukan berdasarkan cluster
sekolah terfavorit atau termahal, tetapi berdasarkan jenis bahasa dan olah raga
yang ingin ia pelajari. Hampir semua sekolah merupakan milik pemerintah.
Pemerintah tidak membeda-bedakan antar sekolah, karena setiap orang berhak
mendapatkan pendidikan yang sama mapan. Filandia menerapkan konsep testless
dalam kegiatan pembelajaran. Artinya, siswa tidak terlalu banyak dibebani oleh
tes atau ujian, bahkan tidak ada UTS, UAS, atau ujian nasional seperti yang
dilakukan di Indonesia. Siswa menempuh tes hanya ketika ia akan memasuki
perguruan tinggi saja.
Ujian
tidak banyak dilakukan karena ujian adalah alat evaluasi yang sifatnya mengukur
kemampuan secara generik dan tidak mampu melihat kecerdasan setiap siswa secara
spesifik–karena setiap siswa memiliki tingkat kecerdasan berbeda-beda. Guru di
finlandia hanya berfokus pada upaya-upaya untuk mengoptimalkan kecerdasan siswa
melalui bimbingan aktivitas pembelajaran di kelas. Kualifikasi guru S2 (Master)
dan sudah mengikuti pelatihan keguruan berdasarkan waktu yang telah ditetapkan.
Dengan adanya standardisasi pendidikan yang tinggi bagi guru-guru di
Finlandia,maka pengelolaan pendidikan akan semakin baik, karena guru adalah
subjek yang paling berpengaruh di dalam kelas–sekalipun ketika menerapkan
metode student centered.
Kurikulum
bersifat fleksibel. Artinya, kurikulum didesain dan diserahkan kewenangannya
pada pemerintah daerah berlandaskan budaya dan kearifan lokal–karena potensi
dan karakteristik setiap daerah tidaklah sama. Sehingga masing-masing daerah
dapat mengoptimalkan setiap potensinya. Pendidikan di Finlandia tidak
menerapkan sistem ranking. Karena pendidikan diciptakan sebagai alat untuk
bekerja sama, bukan sebagai alat untuk bersaing dan berkompetisi. Sistem
ranking dianggap dapat melumpuhkan motivasi siswa untuk belajar.